the way i've choosen maybe is yours too... so let the dreams come true

Foto Saya
jolanda atmadjaja herlambang
Indonesia
Lihat profil lengkapku

Kamis, Februari 28, 2008

Estetika pada Era Konseptual (2)

menjadikan blog
sebagai media kreasi,
tidak hanya untuk mendokumentasikan karya

tapi juga merupakan kegiatan men-desain
mengolah pikir, rasa, citra, guna, kata, rupa, teknik......
ber- Estetika praktis di Era Konseptual

mencoba ‘memenangkan benak’
di antara jutaan karya blogger
di tengah 'hiruk pikuk' dunia maya


Pembedaan
tidak sekedar berpikir
tidak sekedar menulis
tidak sekedar berkarya

untuk berbagi
menyentuh sisi personal
menyentuh kedalaman
menjadi perenungan

mungkin tidak ‘indah’
tapi mencoba menyeimbangkan jiwa
berupaya di tengah ketidakpastian……

Rabu, Februari 27, 2008

ada 2 pusaran di sini


Senin, Februari 25, 2008

o a s e

h i l a n g....................

di tengah keriaan
di tengah kepalsuan

just like an extraction
but it's really .................................
o a s e
or something like that

Minggu, Februari 24, 2008

Estetika pada Era Konseptual (1)

dalam penerapan High Concept High Touch
Estetika pada era Konseptual
adalah
berorientasi Keseimbangan ( tidak hanya fisik tapi juga mental spiritual )
bersifat Kontekstual ( sesuai konteks fungsi, manusia, lingkungan, dll. )
memiliki sisi Komunikasi Personal
meMenangkan Benak ( memiliki Sense of Place, kekuatan citra dan pembedaan, dll. )

pemahaman Estetika selalu berproses
Estetika tidak melulu keindahan fisik
tapi merupakan Jiwa sesuatu
dengan tujuan Keseimbangan

Sabtu, Februari 23, 2008

Wajah-wajah Tersenyum


mencipta kebahagiaan-memberi warna-membawa ceria-pesan damai
sebuah tipuan-menjadi topeng-menutup kebohongan-parodi kehidupan
(gambar Nadya 12.05.2007)

Rabu, Februari 20, 2008

Logika dan Rasa

me-logika-kan rasa
menjadikan emosi bagai sistem
ekspresi seperti tanda baca , . ? ! "
ungkapan
adalah aturan

indah hanya syarat
bahagia sebatas senang
duka
dianggap kekurangan

dan….
hanya me-rasa-kan logika
menjadikan proses bagai labirin
tidak kenal ujung
tanpa tujuan pasti

Senin, Februari 18, 2008

Kampus Gampingan dalam Kenangan





surga bagi kaum lelaki
neraka bagi lelaki yang terjajah lelaki
kawah candradimuka bagi para gadis lugu
momok bagi yang merasa tersakiti

medan perang bagi pengejar mimpi-mimpi olah rupa
selembar ‘kertas’ dan penjamin ‘predikat’ bagi pemuja gelar dan status
jejak petualangan bagi para pencinta
warna pelangi bagi penjelajah hidup

tidak sekedar kumpulan orang ‘unik’
mozaik kehidupan
kampus gampingan….
romantika, harapan dan kenangan





sumber gambar :
Tarcisius Wintoro

Minggu, Februari 17, 2008

Arsitektur Kolonial sebagai 'Jiwa' Jaman

(Artikel ini telah diupload di http://astudio.id.or.id/artkhus64ars_kolonial.htm - sebagai bagian dari tulisan Arsitektur Kolonial, yang memuat pula tulisan Yulia Eka Putrie 'Arsitektur dan Perjalanan Sejarah' dan Probo Hindarto ' Memori akan Sebuah Penjajahan')

Arsitektur kolonial tidak sekedar romantisme masa lalu. Tidak sekedar jadi saksi sejarah dan warisan budaya. Arsitektur peninggalan masa kolonial merupakan penanda jaman dan keberadaannya menjadikan arsitektur di Indonesia - secara tidak langsung - sebagai bagian dari perkembangan arsitektur dunia. Terlebih dari itu arsitektur kolonial telah menjadi ‘jiwa’ bagi keberlangsungan kehidupan, dilatarbelakangi beragam kisah pembangunnya, dilema antara idealisme dan pemenuhan kebutuhan kekuasaan politis dari pemerintah Belanda.

Kita kenal Henry Maclaine Pont, CF Wolff Schoemaker, Herman Thomas Karsten, dkk. sebagai arsitek yang mampu menjembatani kepentingan politik, sosial, ekonomi dari pemerintah, idealisme pribadi dan kearifan lokal. Mereka secara fleksibel mampu merancang bangunan sesuai konteks lingkungan, peruntukan, pengguna, dll. sekaligus menjadi penentu kebijakan perencanaan kota dan bangunan. Secara aktif membangun dan menerapkan akulturasi juga pendekatan alam dan budaya lokal pada arsitektur, seperti pada bangunan ITB, Villa Isola, gereja Katolik Pohsarang, dll. Kekuatan struktur, kejujuran bahan, juga keoptimalan tata kondisi cahaya dan penghawaan menjadi pertimbangan penting.

Kekuatan konsep yang diterapkan dalam arsitektur kota dan bangunan di masa kolonial mencakup aspek fungsi, struktur dan estetika, menjadikan desain utuh, integral, kontekstual. Tidak hanya arsitektur yang dibangun para arsitek setelah abad ke-19, arsitektur yang dibangun sebelum abad ke-19 memiliki kekuatan yang sama. Gaya bangunan yang diterapkan tidak semata-mata berdasar selera ataupun sebagai media penunjukan kekuasaan politis, seperti melulu memilih gaya Klasik Eropa saja tanpa pertimbangan aspek teknis dan kegunaan. Ada keunikan sendiri yang mendasari pemilihan gaya bangunan. Estetika bangunan bersifat kontekstual.

Sebagai contoh pada bangunan gereja masa kolonial yang dibangun di sekitar pusat pemerintahan cenderung menerapkan gaya Eropa (Gotik,Renaisans,Yunani,dll.). Kecenderungan penerapan Gotik sebagai gaya bangunan pada bangunan gereja Katolik, seperti Katedral Jakarta dan Bandung, dilatarbelakangi masa puncak orientasi iman pada Gereja Katolik di Abad Pertengahan (era Gotik) sebagai acuan. Sementara gaya Renaisans, Barok, Klasik Baru cenderung diterapkan pada bangunan gereja Kristen Protestan, seperti GPIB ‘Immanuel’ Jakarta, Bandung dan gereja ‘Blendhug’ Semarang. Hal ini mengacu pada masa Renaisans, yang diawali oleh reformasi terhadap kekuasaan Gereja Katolik yang dianggap telah menyimpang dan akhirnya melahirkan ajaran Kristen Protestan.



Katedral Jakarta (1891-1901)
arsitek : Anton Dijkmans SJ, Marius J. Hulstwit, van Es

Gaya Gotik diterapkan melalui penerapan menara, ruang tengah (nave), arcade, triforium, bentuk dasar salib, kaca patri, ribbed-vault, rose marry window, bentuk pointed-arch pada dinding, kolom dengan ornamen tumbuhan (foliated-capital)

Sumber gambar : http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Katedral_Jakarta



GPIB ‘Immanuel’ Gambir – Jakarta (1835 – 1839)

Penerapan gaya Renaisans, Klasik Baru pada tiang-tiang bergaya Yunani seperti dorik, struktur kubah, denah lingkaran, detail interior lain

Sumber gambar : http://members.tripod.com/alifuru/jakarta/ts_mbetawi.htm


Sementara untuk rumah tinggal dan bangunan publik cenderung menerapkan perpaduan arsitektur tropis dengan gaya Eropa. Pada banyak kasus konsep tradisional Hindu Jawa seperti orientasi Utara-Selatan juga diterapkan. Penerapan bahan alam, kejujuran konstruksi, pertimbangan optimal tata cahaya alami dan penghawaan cenderung pula diterapkan.

Sebagai penanda jaman arsitektur kolonial secara tidak langsung telah memberi kontribusi bagi perkembangan arsitektur dunia. Di akhir abad ke-19 saat arsitektur di Eropa menerapkan konsep eklektik - arsitektur di Indonesia diwarnai pula dengan munculnya beragam penerapan gaya seperti Gotik pada bangunan Katedral, Renaisans pada gereja Protestan dan beberapa bangunan museum. Di saat konsep purisme merebak - di Bandung banyak didirikan bangunan bergaya Art Deco, seperti Hotel Savoy Homann, bangunan di Braga, dll.

Hal-hal tersebut menjadi bukti bahwa keterlibatan arsitek Belanda dalam pembangunan kota dan bangunan di Indonesia memberi kontribusi tidak hanya dalam bentuk pengolahan potensi budaya lokal, namun pula memberi wacana tentang perkembangan arsitektur mutakhir di masa tersebut. Suatu upaya besar yang wajib kita hargai dan lestarikan baik secara fisik maupun spiritual.

Selain banyaknya kasus pembongkaran bangunan kolonial, hal memprihatinkan tentang warisan masa lalu yang terjadi di masa kini antara lain adalah pergeseran fungsi alun-alun. Konsep simbolik (orientasi Utara – Selatan, profan – sakral, peletakan Mesjid di Barat,dll.) pada alun-alun masa kerajaan di Jawa dipertahankan keberadaannya di masa kolonial, walau dengan perubahan pada fungsi pusat pemerintahan. Pada saat ini fungsi alun-alun cenderung tergantikan oleh dominasi sebagai pusat ekonomi. Alun-alun sebagai pusat dari segala bentuk pergerakan kehidupan kota, baik spiritual maupun material, seolah telah kehilangan ‘keseimbangan’nya.

Arsitektur kolonial adalah sumber belajar. Terlepas dari latar belakang politis yang melingkupi kemunculannya pada masa lalu, konsep arsitektural yang diterapkan merupakan pemikiran yang menyeluruh tentang manusia, ruang, lingkungan dan waktu. Arsitektur kolonial adalah jiwa jaman.

Sabtu, Februari 16, 2008

Belajar dari Warisan Romo Mangun - SD Kanisius Mangunan Yogyakarta



Kreativitas…
menghargai proses
kebebasan berpikir
dan berpendapat



adalah modal
yang mampu menjadikan keterbatasan
menjadi kelebihan
menjadi kekuatan

menjadikan materi
sebagai bekal untuk berproses
bukan sekedar menjadi tujuan semata


sumber gambar : koleksi pribadi

Jumat, Februari 15, 2008

saat menyapa

yang berharga.....




memulai langkah
menyimpan harapan dan keraguan
suatu yang tertunda
berharga tepat pada waktunya
atau akan hilang sia-sia

Rabu, Februari 13, 2008

bukan siapa siapa

ketika kau berpikir
yang kau temukan adalah jalan lurus

ketika kau bermimpi
yang kau temukan adalah lompatan-lompatan tak berbatas

ketika kau merenung
yang kau temukan adalah kedalaman

dan ketika kau berpasrah
tiada yang akan kau temukan

karena kau bukan siapa-siapa

Senin, Februari 11, 2008

Sedalam Ikhlas

Andai ikhlas menghadirkan pasrah
Terasa sakit adalah wajar

Andai ikhlas menghadirkan tentram
Yang tertinggal adalah angan tak berujung

Minggu, Februari 10, 2008

YB Mangunwijaya - sembilan tahun kenangan (10.02.1999 - 2008)



Jika kemurnian ternoda…..
tidak hanya jiwa yang tergoyah
semesta tidak akan kembali…..

Sembilan tahun
waktu yang singkat untuk berbalik arah
waktu yang panjang untuk tetap mengalir

pantaskah kita untuk menghapus semua ?
seberapa banyakkah kita telah berbuat ?
atau hanya untuk ‘keindahan’ suatu kenangan ?




sumber gambar : http://id.wikipedia.org/wiki/Y.B._Mangunwijaya

dan koleksi pribadi

Sabtu, Februari 09, 2008

Kita, Doraemon, dan Piglet

Kita bukan ‘Doraemon’
yang punya kantong ajaib
selalu mampu memenuhi beragam keinginan

Kita juga bukan ‘Piglet’
yang polos dan lugu
selalu mampu menumbuhkan rasa sayang

tapi kita lebih ‘kartun’ dari Doraemon dan Piglet
yang terus berangan
selalu mampu menipu diri

doraemon dan piglet ala nadya


Jumat, Februari 08, 2008

Merah bukan merah

Sejauh mata memandang
Hanya merah itu yang tergapai
Jika semua terhenti
Biarkan merah itu membias
Merah yang memang bukan merah

Selasa, Februari 05, 2008

titik balik

saat kita....
mengakui keberadaan diri
berdamai dengan keadaan
mengatasi ketakutan
mengubah sakit menjadi 'syukur'

Senin, Februari 04, 2008

High Concept High Touch

( Artikel ini telah dimuat di Bulletin HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia)
edisi Januari 2007 - Maret 2007, upload www.hdii.or.id 6 April 2007 )

Ada hal menarik yang terjadi saat kita ‘sibuk’ dengan beragam fitur pada ponsel, kamera digital, komputer desain, akses internet dan media massa serta hasil teknologi lainnya. Semakin lama kita semakin terbuka dan hal-hal personal menjadi lebih leluasa ‘menampakkan’ diri, dari yang bersifat tabu, seperti pornografi dan pornoaksi sampai yang secara positif menunjang perkembangan diri dan lingkungan kita. Muatan ‘seni’ bermunculan di segala aspek kehidupan dari seni kuliner, otomotif sampai seni bermain sepak bola yang jadi komoditi tontonan.

Perkembangan milis di internet dan komunitas berbasis peminatan menjadikan kita semakin peka dan fokus dalam hal pengembangan hobby, profesi, keahlian, dll. Kebutuhan fasilitas penunjang minat kita menjadi semakin beragam dan spesifik. Di sisi lain gaya hidup ‘kembali ke alam’, hidup sehat, makanan organik, pengembangan kegiatan spiritual seperti meditasi, yoga ,dll. juga berkembang pesat. Hal-hal tersebut berdampak pada perkembangan desain, baik desain produk, grafis, fashion, interior, arsitektur hingga kawasan.

Pendekatan personal pada proses desain tidak hanya membentuk keragaman dan spesifikasi ditinjau dari segi fungsi, namun juga berpeluang besar mendorong perkembangan desain berorientasi gaya hidup. Desain berkualitas ‘premium’, semakin berkembang pesat mulai dari produk fashion, ponsel, sampai pusat kebugaran, klinik gigi berkelas boutique, juga rumah makan dengan layanan by appointment.

Penerapan ‘High Concept and High Touch’ dalam desain dikuatkan oleh pendapat Daniel H. Pink dalam buku A Whole New Mind. Disebutkan bahwa saat ini terjadi perpindahan dari Zaman Informasi menuju Zaman Konseptual. Pada zaman konseptual yang diramalkan akan menjadi pemimpin adalah para pencipta dan mereka yang mampu berempati. ‘High Concept High Touch’ dianggap merupakan pendekatan yang tepat dalam penyelesaian berbagai kasus, dari tingkatan sederhana sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat umum dan perseorangan hingga pasar ‘premium’.

Di tengah maraknya penerapan konsep minimalis perkembangan personal-approach dalam desain interior ditandai pula dengan meningkatnya kecenderungan pemenuhan kebutuhan ruang khusus. Ruang-ruang yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan spiritual seperti ruang ibadah, ruang meditasi, kebutuhan hobby dan pekerjaan seperti home theater, studio musik, studio tari, bengkel, laboratorium, ruang komputer, perpustakaan, dll. menjadi pertimbangan program ruang dalam tempat tinggal. Secara logis privacy dalam mengeksplorasi obyek yang diminati menjadi penting dan dapat pula menentukan pengembangan fasilitas ruang dalam bangunan.

Pada perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, sekolah, rumah sakit, dan bangunan publik lain, fasilitas penunjang berkembang lebih variatif, berorientasi pengunjung dan mewadahi pula kebutuhan informasi, edukasi, hiburan dan rekreasi. Pengadaan fasilitas ruang penitipan anak, area bermain, area ibu menyusui dan anak batita, fasilitas internet, pemisahan antara area non smoking area dengan smoking area, area hijau, sirkulasi dan area service khusus bagi pengguna kursi roda semakin diperlukan. Hal ini berkait erat dengan kondisi masyarakat yang semakin menghargai lingkungan, kesetaraan gender, hak asasi, dsb. Sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah wanita bekerja, keberadaan fasilitas penitipan anak di perkantoran dan bangunan publik lain semakin dibutuhkan. Area bermain pun dibutuhkan untuk mengantisipasi kebutuhan waktu luang anak saat berada di tempat-tempat khusus seperti bengkel atau showroom mobil, rumah sakit, ruang tunggu dokter, dll.

Penggunaan nama yang ‘akrab’ seperti Kedai Nenek, Dapur Telo, Kampung Sampireun, Rumah Teh, dll. pada kafe, rumah makan, warung, penginapan, toko, bakery dan sebagainya di masa kini merupakan salah satu bentuk pengembangan personal touch. Hal ini berdampak pada penerapan suasana tematis seperti ‘rumah’, pedesaan, tradisional pada ruang, bangunan dan lansekap. Keragaman bentuk, pernak-pernik yang khas, unik sebagai penunjang suasana serta sajian yang ditawarkan dapat membawa pengunjung kembali mengenang masa lalu, suatu tempat, suatu kejadian, dll.

Ruang cenderung bersifat multifungsi misalnya penggabungan ruang makan dengan area dokumentasi, gallery, penjualan buku, perpustakaan, dsb. Desain kawasan yang didasari oleh tema khusus semakin banyak dijumpai seperti wisata air, desa wisata, dll. Proses pembuatan makanan, tahapan produksi alami (memerah susu, menanam padi, membajak sawah, memetik teh, dll. ) maupun pabrikasi menjadi komoditi. Informasi, pengetahuan tentang ‘sesuatu’ disampaikan dalam bentuk yang tidak formal.

Sebagai salah satu strategi penjualan kondisi ini menumbuhkan ikatan batin, keterbukaan antara tempat (bangunan, ruang), pemilik, pengelola dengan pengunjung. Desain mencitrakan spesifikasi, ‘kekuatan’ produk, brand image , sistem pelayanan, dsb. sebagai konsekuensi logis dari semakin bebasnya persaingan, strategi memenangkan ‘benak’ konsumen, mengutamakan kepuasan konsumen. Penataan ruang, bangunan, kawasan yang mendukung citra produk mampu ‘mengikat’ konsumen.

Penerapan pendekatan personal dalam desain dan kasus lainnya menampilkan sisi lain masa kini yang begitu ‘berwarna’, humoris. Membuat hidup menjadi lebih ‘hidup’ di tengah beragam konflik ‘nilai’ dan bencana alam. Contoh sederhana, di antara kita pastilah ada yang pernah terkaget-terkaget, tertawa geli, terkagum-kagum saat tiba-tiba ada ‘patung’ yang bergerak, bernafas, bahkan dengan jahil mencolek tubuh pengunjung event pameran atau wedding party. Atau menyaksikan aksi para ‘manekin’ yang berganti-ganti pose dengan luwesnya di etalase toko pakaian. Manusia berprofesi sebagai benda seni. Teknologi robotik telah berkembang, manusia malah berperan sebagai ‘benda’. Peran manusia dan ‘benda’ nyaris tak ada beda tergantung apa konsep desain yang melatarbelakangi.


Depok, 6 Februari 2007

Menyimak Video Klip Mulan Jameela - Makhluk Tuhan Paling Sexy

‘sexy’
adalah milik laki-laki dan perempuan
adalah sensualitas melalui bahasa tubuh, dinamika gerak, kekuatan citra
adalah kekuatan lirik dan lagu
aksi penabuh drum, arabic dance, 3 perempuan pemain musik,motion graphic

maskulin dan feminin
musik rock dan timur tengah
hitam putih dan full colour
minimalis dan kompleks

seimbang

tapi tidak pada ornamentasi ‘ au ah uh ih’ yang dibawakan…..


sumber gambar :
( sutradara video klip : Tepan Kobain )

Musik dan Desain



sebagai bagian dari tulisan Arsitektur dan Musik - yang memuat pula tulisan Probo Hindarto ' Arsitektur : Musik yang Beku')

Musik merupakan satu bentuk kesenian yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi sisi personal manusia, bersifat universal – mampu dinikmati beragam kalangan usia, status, latar belakang budaya, dsb. Kekuatan musik mampu menembus batas ruang dan waktu. Hal ini yang menjadi inspirasi untuk menelaah lebih jauh sejauh mana kekuatan musik mampu merambah pula ranah desain. Tulisan ini merupakan pengantar dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisa lebih jauh keterkaitan musik dengan desain, khususnya desain interior dan arsitektur.

Beberapa waktu lalu saya melihat tayangan tentang distro (distribution outlet) ‘berjalan’ - yang memanfaatkan area dalam sebuah bis untuk showroom. Fenomena menarik karena distro bukan sekedar ‘berdagang pakaian’, tapi merupakan bisnis ‘image’ dan gaya hidup. Kasus distro ‘berjalan’ melengkapi gejala penerapan konsep ‘high touch’ dalam sistem penjualan, yang merupakan bentuk ‘komunikasi visual’ yang efektif untuk masa kini.

Pengaruh musik pada desain fashion mulai marak sejak munculnya artis dan kelompok musik fenomenal seperti Elvis Presley, The Beatles, The Rolling Stones, Michael Jackson, Madonna, Bob Marley, dll. Gaya busana artis dan musisi tersebut menjadi trend khususnya di kalangan anak muda.

Distro dikenal di Indonesia merupakan salah satu perwujudan ekspresi diri bagi komunitas ‘underground’, penikmat musik ataupun jenis aliran musik tertentu, juga extreme sport seperti skateboard, surfing,dll. yang dirintis sekitar tahun 1990-an di Bandung. Perkembangan distro menjadi salah satu wujud nyata keterkaitan musik dengan desain dan dilatarbelakangi budaya pop, gaya hidup, konsumerisme sebagai pemicu perkembangan. Karakteristik musik ataupun kelompok band yang diusung menjadi sumber inspirasi bagi visualisasi dari ekspresi diri tersebut, baik dalam bentuk desain merchandise berupa t-shirt, aksesori, tas, produk, cd, maupun desain furniture, interior. Tampilan grafis pendukung image menjadi salah satu upaya penciptaan ‘sense of place’.

‘Sense of place’ yang diciptakan melalui pemanfaatan multi media, audio visual sebenarnya telah ada jauh sebelum budaya pop merebak. Spirit jaman dan dimensi estetis menjadi benang merah antara musik dan desain. Musik dengan beragam kompleksitas komposisinya berkembang sejalan dengan perkembangan pola pikir dan cara hidup masyarakat berikut ekspresi seni dan pemecahan masalah terhadap kondisi lingkungan sekitarnya.

Sejak awal peradaban dengan peralatan sederhana musik digunakan untuk hubungan transendental, pelengkap upacara, pengiring tarian, dsb. Pada perkembangan selanjutnya di mana sistem politik, organisasi sosial diterapkan, musik berkembang pula menjadi salah satu pelengkap perang, penyampai pesan, dsb.

Di masa Abad Pertengahan di Eropa dengan Gotik sebagai puncaknya – segala bentuk kehidupan diorientasikan pada kehidupan Gereja (Katolik). Perkembangan musik Gregorian sebagai musik Gereja, penerapan seni kaca patri dan konstruksi bangunan gereja yang monumental (struktur langit-langit tinggi kubah ber-rusuk/ribbed-vault, menara, triforium,dll.) merupakan pencapaian kesan vertikal, agung sebagai ekspresi iman dan simbol hubungan Tuhan dengan manusia.

Musik Barok yang menekankan ornamentasi rumit pun sejalan dengan desain interior dan arsitektur yang berorientasi pada detail dan ornamen di seluruh elemen ruang dan bangunan termasuk penerapan lukisan pada plafon berbentuk kubah. Pada arsitektur gereja gaya Barok dikategorikan bersifat dramatik, ekspresif.

Jika kemudian yang dikenal adalah Barok (Inggris: baroque), maka asal-usulnya adalah barroco yang berasal dari bahasa Portugis, untuk menyebut mutiara yang bentuknya tidak beraturan dan digunakan untuk menjelaskan bangunan yang konstruksinya melengkung serta sangat kaya dengan dekorasi.
Khususnya tentang musik Barok, orang mengenalnya sebagai musik yang amat emosional. Salah satu ciri utamanya adalah munculnya pencampuran larik-larik melodi yang berlainan. Tetapi, meskipun berlainan, larik-larik tersebut tetap dalam batas asas tempo harmonik. Pada zaman itu komposer melakukan eksperimen dengan instrumen-instrumen berbeda
(
http://www.melodiamusik.com/classic/index.php?option=com_content&task=view&id=62&Itemid=30 - dikutip dari Kompas)

Sementara untuk budaya Nusantara salah satu contoh adalah penerapan kesan dinamis, alami, penerapan warna primer dominan merah, orientasi simbol dan detail, kompleksitas komposisi dan pengerjaan menjadi beberapa ciri bangunan tradisional Bali, yang kita dapati pula sebagai karakteristik perlengkapan sehari-hari seperti pakaian adat, peralatan dan bentuk seni lain : lukis, musik, tari, dll.

Dalam perjalanan waktu munculnya budaya pop menjadikan sosialisasi musik menjadi lebih pesat berkembang, termasuk industri rekaman. Industri musik menjadi pemicu perkembangan total design : produk, fashion, grafis, interior dan arsitektur sebagai bagian dari sistem pemasaran dan apresiasi seni. Perkembangan teknologi menunjang perkembangan elektro-akustik juga tata suara elektronik dan multi-media. Teknologi digital dan informasi semakin melengkapi keterkaitan musik, seni visual seperti film, seni instalasi, dan desain , di mana internet, mobile phone, dll. menjadi media ampuh untuk penyebaran dan apresiasi.

Kemajuan teknologi memberi warna pula pada perkembangan desain interior dan arsitektur yang mewadahi kegiatan bermusik ataupun kegiatan apresiatif lain, seperti perkembangan desain set panggung pertunjukan, gedung pertunjukan dan museum seni.

Pada kasus desain set panggung : pertunjukan musik, selain ditunjang oleh koreografi, pertunjukan musik didukung pula oleh penerapan set panggung dengan memanfaatkan teknologi lighting, tata suara, panggung bergerak (system hidrolik, berputar,dll.), motion graphic pada layar LED sebagai bagian dari pertunjukan. Keseluruhan aspek tersebut (lagu, musik, tata cahaya, suara, efek visual lain, motion graphic, dll) menyatu dalam satu tema sesuai karakter pertunjukan yang ditampilkan.

Untuk kasus museum salah satu contoh adalah Experience Music Project di Seattle karya Frank O. Gehry, yang merupakan museum musik dengan penerapan teknologi mutakhir, interaktif. Selain berfungsi sebagai museum EMP berfungsi pula sebagai wadah berkumpul para musisi, workshop, studio lab, dsb.

Secara arsitektural penerapan paduan bahan metal pada ruang dan bangunan, pemanfaatan bahan alam untuk area pajang, bentuk-bentuk lentur, penataan tidak teratur, konstruksi baja, penerapan warna beragam : merah, kuning, ungu, biru, dsb. dinamis mencerminkan pula citra perkembangan dinamika perkembangan musik di Amerika khususnya (rock and roll, gospel, R & B,dll.). Dinamika tercermin pula pada penerapan simulasi live concert dengan pemanfaatan teknologi multi media yang sebagai media interaktif, yang ditunjang tata cahaya dan akustik yang memadai.







Sumber gambar :
http://www.arcspace.com/architects/gehry/emp_n/


Musik dapat menjadi sumber inspirasi dalam desain. Kepekaan akan prinsip estetika : harmoni, ritme, keseimbangan, penekanan, dll. juga tema dan karakter spesifik lain adalah kunci, yang menjadikan musik sebagai bagian dalam proses perancangan, baik desain produk, tekstil, fashion, grafis, interior, arsitektur maupun kawasan. Kesan psikologis warna, bahan dan konstruksi melengkapi pula perwujudan desain yang utuh dan integral. Sebagai contoh : Musik rock yang berkonotasi maskulin, keras, dinamis dapat divisualisasikan dalam desain interior dan arsitektur melalui penerapan hi-tech pada konstruksi, bahan metal, dominan hitam putih, bentuk geometrik tegas, dengan penataan asimetrik.

Pada perkembangan di era konseptual seperti sekarang area-area publik seperti restoran, café bergaya retro dengan mengambil tema aliran musik tertentu juga merupakan contoh bagaimana kekuatan memori terhadap popularitas jenis maupun kelompok musik tertentu menentukan segala bentuk desain, dari pemilihan jenis dan nama makanan, penyajian, suasana ruang, tampilan grafis, penamaan area makan, brand berikut segala bentuk image yang ingin ditampilkan hingga tampilan fisik interior, arsitektur dan lansekap.

Desain berkembang dinamis sejalan dengan spirit jaman. Keterkaitan musik dengan desain menjadi salah satu fenomena alam yang menunjukkan bahwa desain merupakan harmoni, sebagaimana juga alam semesta. Mikrokosmos mencerminkan makrokosmos.

Minggu, Februari 03, 2008

Saat berhenti.....

Dalam perjalanan
kita perlu berhenti

untuk sejenak mengukur
seberapa jauh
ataupun seberapa dekat

untuk memahami
seberapa kuat kita melangkah
seberapa luas kita memandang
seberapa banyak sisi yang kita jangkau
seberapa dalam makna perjalanan

dan.......
seberapa berartikah kita untuk meneruskan langkah

Sabtu, Februari 02, 2008

Menghitung Dunia

Dunia adalah jamak
banyak cara tuk ingkari kejujuran
banyak sisi tuk bersembunyi
banyak rupa tuk pembenaran diri

Dunia adalah Satu
saat kita menembus ruang dan waktu

Jumat, Februari 01, 2008

Masyarakat dan Desain

( Artikel ini merupakan pengembangan dari artikel 'Memasyarakatkan Desain dan Membangun Kesadaran Desain pada Masyarakat' , yang telah dimuat di Bulletin HDII no. 07 edisi Februari 2005 - Juni 2005 )

Sekitar tahun 1980-an kita kenal slogan ‘memasyarakatkan olah raga dan mengolah ragakan masyarakat’. Kala itu di setiap tempat, terutama di halaman sekolah-sekolah di negeri ini, khususnya pada pagi hari atau Jum’at pagi di halaman kantor-kantor berkumandang lagu Senam Kesegaran Jasmani yang mengiringi kita ber-SKJ. Kadang menjadi rutinitas yang membosankan dan jadi pembenaran untuk ‘menunda’ waktu bekerja. Di sisi lain upaya tersebut cukup efektif untuk mencapai tujuan agar tidak hanya jadi sekedar slogan.

Bagaimana dengan ‘memasyarakatkan desain dan membangun kesadaran desain pada masyarakat’? Dalam beberapa tahun terakhir para desainer grafis khususnya di bidang periklanan berhasil mengupayakan salah satunya melalui eksplorasi iklan-iklan di berbagai media yang berpeluang untuk diapresiasi langsung oleh masyarakat, juga dengan menggelar ajang penghargaan Citra Pariwara. Ada pula IGDS (Indonesia Good Design Selection) – seperti menurut Widagdo dalam bulletin HDII no.4 – yang dilaksanakan oleh Pusat Desain Nasional (PDN), sebagai bentuk pemilihan produk desain yang berkualitas baik IGDS merupakan salah satu upaya yang tepat untuk peningkatan apresiasi desain. Secara khusus kita sebagai desainer interior agaknya perlu juga mencari cara yang tepat guna untuk upaya memasyarakatkan, memopulerkan desain interior.

Publikasi desain sebagai ilmu dan karya atau produk melalui media massa baik cetak maupun elektronik terutama televisi, radio, dan internet menjadi sarana ampuh untuk merangsang dan meningkatkan daya apresiasi desain pada masyarakat. Perkembangan teknologi informasi terbukti mampu mendukung upaya publikasi, termasuk dalam hal upaya pembelajaran informal desain. Keberadaan program-program televisi, tabloid, majalah, artikel di media cetak lain yang membahas kasus desain interior merupakan salah satu cara efektif.

Kondisi masyarakat – termasuk kita – sebagai penyuka trend, ‘mimpi’, dan ‘gosip’ dapat juga menjadi pertimbangan untuk mencari cara tepat dalam penyampaian pengetahuan desain. Tingginya rating pemirsa sinetron, infotainment, dan reality show di media televisi menunjukkan karakter masyarakat tersebut. Suatu misi yang dikemas secara hiburan, interaktif, informal, dan ‘menyentuh sisi personal’ cenderung banyak diminati oleh berbagai kalangan. Tayangan ‘Bedah Rumah’ di salah satu stasiun televisi - terlepas dari pro kontra dan aspek komersial dari tayangan ini – merupakan satu upaya ‘mendekatkan’ desain pada masyarakat walau masih dalam tahap pendekatan desain yang sederhana. Kemasan program pembelajaran desain dalam bentuk edutainment dapat menjadi pilihan. Berbagai program yang telah ada selama ini dapat dikembangkan dengan sasaran yang lebih luas, ditujukan untuk seluruh lapisan masyarakat, baik tua, muda, di pedesaan, perkotaan, di pinggiran kali, di rumah susun ataupun di perumahan mewah.

Membangun kesadaran desain pada masyarakat mencakup upaya yang ‘lebih dalam’ daripada memasyarakatkan desain. Menentukan sebuah karya desain adalah desain yang ‘baik’ kita tahu tidaklah mudah, sangat relatif. Perlu pemahaman yang lebih jauh dan tidak hanya menjadi permasalahan ‘selera’ saja. Dalam hal ini kesadaran desain mencakup pula kesadaran estetika bentuk dalam arti luas : Estetika bentuk yang berkait dengan kebutuhan pemunculan jati diri, kesadaran konteks yang diterapkan dalam produk desain, baik yang dipakai dalam keseharian kita seperti kancing baju, jepit rambut, sikat gigi, pakaian sampai desain skala besar – rumah tinggal, bangunan publik dan kawasan.

Estetika merupakan salah satu aspek desain yang mengutamakan rasa, sisi personal dan manusiawi kita. Dengan demikian pemahaman ‘keindahan’ dapat menjadi modal kesadaran desain. Sejak kecil kita terus berestetika, dengan cara yang praktis, sederhana tentunya. Tentu kita ingat pengalaman kecil kita mengenal beragam warna, memadukan baju, tas dan sepatu kita, menentukan lagu favorit, memilih bungkus kado yang cantik dan banyak lagi yang merupakan cara sederhana melihat ‘keindahan’.

Sejalan dengan perkembangan jaman pemahaman akan suatu yang ‘indah’ tidak melulu secara fisik seperti harmonis, seimbang, selaras. ‘Indah’ menunjuk juga pada kualitas makna yang dikandung, bahkan sebuah eksistensi yang didasari oleh cerminan karakter dan ekspresi diri. Nilai ‘indah’ mengacu pada ungkapan kepribadian, ‘inner beauty’. Produk desain sesederhana, sekecil apapun dapat dimaknai sesuai dengan kejujuran fungsi, tujuan, sasaran, dan hal-hal lain yang mampu men-citra-kan pribadi pengguna ataupun esensi produk, ‘nilai’ kawasan, konteks, dll. Sebagai contoh : ‘indah’ pada eko desain mengacu pada keoptimalan dalam penyelarasan dengan alam, penerapan ‘ nilai-nilai kearifan’ termasuk pemanfaatan bahan dan konstruksi lokal, dll.

Penerapan mimpi, cerminan ‘citra lain’ di luar citra diri dapat saja bermakna, sah secara estetis, dan tidak sekedar ‘selera’ saja, asalkan pengguna sadar akan ‘tuntutan’ yang patut dipenuhi citra lain tersebut. Misalnya penerapan gaya klasik Eropa yang elegan, atau Minimalis yang fungsional sebagai pilihan berdasar trend, penunjukan status, dll. sebaiknya diimbangi pula dengan gaya hidup pengguna yang sesuai.

Keberhasilan ‘memasyarakatkan desain dan membangun kesadaran desain pada masyarakat’ tidak serta merta menghapus ‘bakat’ mengikuti trend ataupun memanfaatkan produk desain untuk penunjukan status. Keberagaman pola pikir dan cara menyikapi produk desain melatih kepekaan masyarakat dalam menentukan keputusan desain. Segala sesuatu dinilai menurut konteksnya, sepanjang tidak menyalahi norma-norma yang telah ada. Paling tidak sudah ada upaya mengoptimalkan fungsi dan tujuan desain yaitu meningkatkan kualitas hidup berbagai lapisan masyarakat.

Pembelajaran Desain dan Penerapannya

( Artikel ini merupakan pengembangan dari artikel yang telah dimuat di Bulletin HDII no 03 edisi Agustus 2003 - September 2003 )

Belajar mendesain dan menerapkannya di lapangan bukan merupakan hal mudah. Para lulusan jurusan desain umumnya memiliki keresahan antara ingin segera menjadi desainer dengan rasa gamang jika tidak berhasil mencapainya. Apalagi setelah melihat kenyataan tidak adanya kesinambungan antara dunia teori dan praktis serta tidak dianggap siap kerja. Wajar jika mayoritas mahasiswa baru jurusan desain bercita-cita menjadi desainer, praktisi ‘murni’. Rasanya hampir tidak ada mahasiswa baru yang langsung bertujuan untuk menjadi dosen, peneliti, pengamat atau kritisi desain.

Adanya ‘perang dingin’ antara akademisi ‘muni’ dengan praktisi ‘murni’ ( ‘murni’ dalam arti tidak melakoni profesi rangkap : desainer dan akademisi ) menambah keresahan yang ada. Yang ‘merasa sukses’ sebagai desainer enggan bersentuhan lagi dengan teori dengan alasan tidak penting, tidak menghasilkan uang, dan tidak realistis. Sementara yang fanatik di bidang akademis merasa ‘sangat tahu’ gejala perkembangan dan kemunduran desain tanpa merasa perlu mendalami kasus-kasus praktis , yang dianggap tidak idealis dan penuh ‘permainan kotor’. Apalagi jika ‘perseteruan terselubung’ ini diwujudkan dalam tindakan saling melecehkan dan merasa benar.
Wah, kasihan sekali adik-adik kita yang masih bermimpi ingin jadi ‘desainer’. Lalu apa yang salah dari ‘pembelajaran’ desain kita ?

Sewaktu kuliah kita banyak diberi bekal, dari belajar menggambar, mengkomposisi, pengetahuan kebudayaan, psikologi, filsafat seni, konstruksi, lingkungan, juga khususnya teori dan metodologi desain yang sistematis. Bekal ini membawa kita pada pemahaman bahwa desain bersifat dinamis, menyeluruh, runtut, logis, di samping juga bersifat intuitif, dan kreatif. Suatu yang lengkap dan menarik, di mana kita memanfaatkan secara bersama otak kiri dan kanan kita. Hal ini perlu disadari sejak awal kita menekuni bidang desain, khususnya para mahasiswa baru. Menurut Agus Sachari ( Desain, Gaya dan Realitas, 1986 : 83 – 89 ), setiap kita memiliki kemampuan rasio, intuisi, dan kreativitas yang berbeda-beda, tidak terkecuali para mahasiswa desain. Secara logis kenyataan ini menjadi salah satu penyebab perbedaan minat dan kemampuan mendesain.

Perubahan jaman berpengaruh pada perubahan pola pikir, perilaku, dan gaya hidup dari para mahasiswa. Pembelajaran desain menjadi semakin kompleks, diwarnai permasalahan teknis dan non-teknis. Seperti memilih mana yang lebih dulu antara telur dengan ayam, para pendidik sering dihadapkan pada permasalahan pribadi mahasiswa yang berdampak pada kualitas akademis, di samping permasalahan kualitas desain mahasiswa yang dirasa minim. Dengan keterbatasan ini tentu saja kekhawatiran terhadap prospek lulusan menjadi wajar. Perlu upaya pula untuk menumbuhkan rasa percaya diri sejak awal pada para mahasiswa, yang notabene berbeda kapasitas rasio, intuisi, dan kreativitasnya, untuk tahu mana yang perlu dikembangkan dan mana yang menjadi keterbatasannya. Peran orang tua seperti berpindah dan dilakoni rangkap oleh pendidik.

Melihat permasalahan di atas, metode belajar mengajar model kuantum seperti dijabarkan oleh Bobbi DePorter, dkk. (Quantum Teaching, 2000) menjadi perlu diterapkan dalam pembelajaran desain. Metode ini bertujuan menciptakan siswa yang tidak hanya memiliki ‘keterampilan akademis’ saja, tetapi juga memiliki ‘keterampilan hidup’ (life skill). Penerapan metode tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemas hal-hal yang bersifat filosofis dari desain dalam bentuk yang lebih sederhana, praktis dan dekat dengan keseharian mereka. Hal ini dilakukan untuk membentuk pola pikir sistematis, integral, menyeluruh sekaligus melatih fleksibelitas dan kreavitas dalam pemecahan masalah.

Merangsang kepekaan visual sebagai dasar desain melalui hal-hal yang menarik perhatian, yang ada dalam keseharian mereka bisa menjadi langkah awal pemecahan masalah, seperti pengamatan dan telaah ‘citra’ produk desain yang dipakai seperti baju, sepatu, tas, parfum, dan asesoris lain. Ataupun berawal dari kepekaan intuisi melalui cara mudah seperti sekedar menyimpulkan kesan dari jenis lirik, irama musik, komposisi, bahkan warna suara dan karakter penyanyi pada sebuah lagu. Kemudian beranjak menuju kegiatan menganalisa video klip musik, desain set panggung pertunjukan, dll. yang tentu saja tidak lepas dari komposisi desain, seperti harmoni, irama, tekanan, kesatuan dari warna, bentuk, dsb.

Proses belajar desain interior diawali dengan usaha memaknai desain, menyadari kekuatan ‘citra’ melalui penciptaan suasana ruang dan bangunan sebelum beranjak lebih jauh dan detail ke permasalahan teknis mendesain. Bermula dari menjelajah ruang pribadi masing-masing dan menemukan citra diri sendiri untuk kemudian diaplikasikan dalam kasus desain sederhana, kemudian semakin meningkat pada kasus desain yang ber’citra’ sesuai tuntutan kebutuhan dan selera publik dengan tetap peka menempatkan secara proporsional cerminan karakter sebagai perancang.

Penumbuhan minat belajar perlu diawali dengan kesadaran bahwa obyek yang dipelajari bersifat menyenangkan, menarik untuk didalami, dan memberi harapan hidup yang lebih baik. Menciptakan lulusan desain yang ‘tepat guna’, memiliki sekaligus ‘keterampilan akademis’ dan ‘keterampilan hidup’ menjadi tantangan khusus bagi para pendidik di tengah kerelatifan permasalahan bisnis dan pasar desain, juga kondisi lingkungan alam yang penuh perubahan. Daya intuisi, kemampuan prediksi, dan antisipasi permasalahan pada akhirnya menjadi penting di samping kepercayaan diri, kemampuan teknis, dan kreativitas dalam mendesain. Ya….walaupun pada akhirnya kualitas desain tetap merasa minim, minimal mahasiswa memahami potensi, tetap percaya diri untuk melangkah di dunia desain walau dengan jalan yang berbeda, tidak hanya linier, lurus melalui dunia praktis.

Memandang desain sebagai suatu yang bersifat dinamis, fleksibel, menyeluruh, dan multi dimensi menjadi mutlak jika kita menengok pada kenyataan bahwa tidak semua alumnus jurusan desain memiliki minat, kemampuan, kesempatan bergerak sebagai praktisi desain. Perkembangan desain tentu saja secara alamiah ditentukan tidak hanya oleh kasus-kasus praktis, tetapi juga kedalaman pemahaman, penemuan pemecahan masalah secara teoritis dalam konteks kemajuan jaman yang selalu berubah dan penuh tantangan.

Pemahaman ini perlu dimiliki setiap kita yang berada dan yang ingin terjun dalam dunia desain. Berbagai masalah dan ‘konflik horisontal’ yang ada memang perlu disadari dan diambil hikmah sebagai suatu proses belajar. Dunia desain di Indonesia – ibarat masih ‘ABG’ – perlu konflik-konflik serius untuk mendewasakannya. Kita bersyukur punya HDII yang menjadi wadah dan sarana berkomunikasi. Sangat perlu untuk memaknai bentuk komunikasi ini menjadi lebih dalam dan akhirnya menumbuhkan ‘ikatan batin’ antar kita – praktisi,akademisi,mahasiswa dan peminat desain lain. Dengan harapan tentu saja adalah munculnya rasa empati, saling menumbuhkan dan kerja sama sebagai mitra sejajar bagi perkembangan dunia desain sendiri.

Menunggu

ada kalanya menunggu bukan berarti sebuah penantian

saat kita menunda untuk berharap
tanpa memahami apa yang sedang kita lakukan

saat kita merasa kehilangan harapan
tanpa memahami apa arti ‘hilang’

Recent Comments

Pengikut