the way i've choosen maybe is yours too... so let the dreams come true

Foto Saya
jolanda atmadjaja herlambang
Indonesia
Lihat profil lengkapku

Minggu, Januari 27, 2008

Saat kita bangga....

Apa yang perlu kita banggakan

Jika ternyata
perhiasan berlian kita adalah hanya bongkahan batu bagi pembuatnya
perangkat elektronik mutakhir dan mobil sport kita adalah hanya kumpulan komponen bagi teknisi perakitnya
gelar akademis kita adalah hanya legitimasi dari pemikiran

tindakan baik kita adalah hanya......
pemenuhan aturan-aturan
ketakutan akan penolakan
dan…..
upaya ‘mengelabui’ Tuhan

tanpa nilai, tanpa makna

Sabtu, Januari 26, 2008

Di Batas Antara

Andai suatu saat dia bertanya
katakan saja padanya

seperti yang kau nyatakan....
tidak apa

tidak karena dia bukan siapa-siapa
dan tidak juga karena aku adalah siapa

tapi karena aku, kau, dan dia
antara Ada dan Tiada

Kamis, Januari 24, 2008

tentang Agama dan Iman

hak tiap orang untuk menentukan apa yang dipahami
tentang agama dan iman.....

agama adalah jodoh dan tidak abadi
sedangkan iman adalah misteri - punya nilai keabadian

jadi apapun agama kita
kalo kita percaya Tuhan itu ada dan ‘memilihkan’ agama buat kita masing-masing
tentunya Tuhan menentukan sesuai dengan kapasitas kita masing-masing
iman yang bersifat abadi dan universal menyatukan kita - siapapun jodoh kita -

Saat harus memilih

Kata orang bijak
Kita dinilai dari apa yang kita pilih
Tidak dari apa yang telah kita hasilkan

Saat kita tidak bisa memilih
Kita memilih untuk tidak memilih
Dan itulah kita

Seandainya tidak memilih adalah selalu pilihan
Apakah kita 'ada' ?
Atau bukan apa-apa ?

Seandainya tidak memilih adalah kebijaksanaan
Akankah kebijaksanaan ini bermakna ?

Media dan Kita

( Artikel ini telah diupload di :
http://www.hdii.or.id/web/berita_artikel_view.php?bid=20060516639 16 Mei 2006 )

Menikmati media massa, seperti surat kabar, televisi, radio, internet, dll. bagaikan menghirup secangkir kopi tubruk di pagi hari. Kadang kita merasakan pahit, sedang-sedang saja, ataupun terlalu manis. Kadang sensasi rasanya mampu memotivasi, menyemangati kita memulai hari dengan hal-hal yang lebih baik dari kemarin, mampu pula membantu kita mendapatkan inspirasi untuk karya-karya kita selanjutnya.

Terlepas dari pro kontra yang melingkupi program-program yang ditawarkan, keragaman informasi, juga kebebasan sajian dan cara penyajian, kita leluasa memanfaatkan media dan belajar dari media. Di satu sisi media berjasa besar menjadikan kita populer, menjadi ajang penunjukan status, ajang bisnis, promosi diri dan produk, memberi banyak hiburan dan kesenangan, kemudahan berbelanja. Di sisi lain media mampu mempermudah proses pembelajaran. Dalam hal ini pembelajaran informal meliputi penyampaian berita sosial, politik, budaya, ekonomi dan realitas hidup lain, maupun penyampaian pendapat/opini, pembelajaran multikultural : keragaman karakteristik agama, seni, gender, gaya hidup, trend, dll.

Di era perkembangan teknologi digital dan informasi ini menurut Anita Lie (Kompas, 7 September 2004 : 4-5) media merupakan sentra ke-4 pendidikan setelah keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan formal. Dengan demikian secara khusus banyak hal yang berkait dengan desain dapat kita pelajari juga melalui media massa. Tidak hanya melalui diskusi desain di milis-milis yang semakin marak di internet. Tidak hanya melalui artikel-artikel di surat kabar, tabloid, majalah dan program tayangan televisi yang memuat materi dan kasus desain interior, tapi juga program-program hiburan, reality show, infotainment, talk show mampu menambah wawasan desain dalam arti luas, termasuk cara kita berbisnis desain. Kita tahu desain memiliki dimensi yang beragam : fungsional, sosial budaya, sejarah, metodologis, estetis, teknis, manajemen, dll. Memanfaatkan media dengan logika menjadikan kita menghargai hal-hal yang kita anggap sepele, menghargai juga ‘proses’ sekecil apapun, tidak hanya berorientasi pada tujuan saja.

Melalui media infotainment kita tahu bahwa pertimbangan aspek gaya hidup menjadikan Ratu Ngebor Inul Daratista mencitrakan ‘kemapanan’ melalui penerapan gaya klasik Eropa pada interior rumahnya di kawasan elite Pondok Indah. Sangat berbeda dengan pola hidup yang dilakoninya di Jawa Timur semasa belum menjadi ‘ikon goyang dangdut’. Hal ini menunjukkan dinamika fenomena desain yang muncul tidak terlepas dari karakteristik masyarakat meliputi selera, mimpi, kebutuhan penunjukan status. Tidak terlepas juga dari pengaruh media yang memopulerkan gaya dan trend desain. Iklan penawaran properti dengan beragam desainnya, dari model minimalis sampai gaya tradisional Cina, Jepang, Belanda, dsb. turut pula ‘memuaskan’ kebutuhan citra pada masyarakat.

Video klip musik, iklan, tata ruang studio untuk acara hiburan menunjukkan pada kita bagaimana, sejauh mana kedalaman konteks dan kepekaan visual, serta dengan cara apa tim kreatif desain menginterpretasi lagu, musik, penyanyi, musisi, produk, tema acara, budaya perusahaan, sasaran konsumen, dll. yang menjadi obyek garapan untuk kemudian memvisualisasikannya.

Tayangan The Apprentice ala Donald Trump maupun ala Peter F.Gontha juga talk show versi Rhenald Kasali memberi pengetahuan praktis berbisnis, strategi ‘menjual’, kepemimpinan, dll. Keberanian mengekspresikan, mempromosikan diri, usaha keras dan kebesaran hati menerima kritik kita dapatkan melalui reality show kontes bakat dan popularitas. Dan banyak lagi pelajaran berharga yang kita dapat jika kita jeli mengambil hikmah dari hal-hal yang ber‘kesan’ sederhana, tidak ‘serius’, tidak formal dari sajian media.

Fungsi komunikasi dari media membuat segala hal menjadi lebih mudah dicerna, terbuka, mudah dijangkau, juga memungkinkan manusia saling berkomunikasi melalui dunia maya. Hal yang perlu diperhatikan dalam kondisi pesatnya perkembangan media saat ini : kita dihadapkan pada beragam konflik nilai, aturan-aturan yang semakin tidak jelas menyatakan mana yang benar atau salah, etis atau tidak etis. Seperti yang disampaikan Yasraf A.Piliang dalam buku Posrealitas (2004:145) media kontemporer tampaknya berkembang ke arah sebuah titik, yang di dalamnya terjadi pelencengan fungsi komunikasi, penyimpangsiuran tanda-tanda, pengaburan makna, pendistorsian realitas, dan penisbian kebenaran.

Seperti kita ketahui tayangan-tayangan kontroversial banyak bermunculan di media. Pembajakan karya desain pun tak jarang semakin mudah dilakukan dengan keberadaan internet dan kemajuan teknologi lainnya, sementara UU Hak Cipta, khususnya Hak atas Kekayaan Intelektual belum berlaku optimal. Dalam kondisi yang ‘tidak pasti’ ini logika, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual berperan penting dalam ‘meluruskan’ kembali hal-hal yang telah menyimpang, minimal dalam persepsi kita sendiri.

Komunikasi yang menyentuh sisi personal maupun yang memang secara nyata bersifat personal melalui media cetak, elektronik, juga media virtual merupakan cara tepat untuk menyamakan persepsi, menumbuhkan kerja sama, menyatakan ketidak setujuan, ketidakpahaman, dll. Yang pasti keberadaan Bulletin HDII merupakan salah satu cara memanfaatkan media untuk memperlancar komunikasi antar kita dan tentu saja sebagai media pembelajaran dan usaha ‘memperkaya’ diri kita, yang walaupun sama-sama berlatar belakang desain interior, memiliki keragaman, perbedaan pilihan dan pengalaman hidup.

HDII sebagai organisasi profesi tentu saja tidak lepas dari aspek media. Dalam hal ini dibutuhkan kepekaan baik pengurus, anggota maupun institusi terkait dengan keberadaan HDII untuk mengembangkan sisi positif dan memanfaatkan media seluas-luasnya termasuk untuk pengembangan profesi, publikasi, pengabdian masyarakat, dll. Mudah-mudahan pemanfaatan media antara lain melalui bulletin dan website yang telah dirintis pak Wayan Darsana, dkk. serta semua program yang telah dilaksanakan dan direncanakan para pengurus HDII Pusat terdahulu dapat terus berkembang dan berdampak luas pada dinamika dunia desain interior kita. Akhir kata, selamat bekerja untuk para pengurus baru HDII Pusat !

Rabu, Januari 23, 2008

'Menikmati' Pemikiran Broadbent, Mangunwijaya, Jencks, dan Kurokawa

( Artikel ini telah diupload di http://www.astudio.id.or.id/artkhus61origin.htm )

Kegiatan ‘berpikir’ dalam mendesain tentunya merupakan hal yang wajib dilakukan setiap desainer. Sebagai tahapan dalam proses desain - filosofi desain umum divisualisasikan, secara praktis diwujudkan dan ‘dinikmati’ pengguna desain melalui produk desain yang dihasilkan. Begitu pula dengan desain arsitektur, ‘buah pikir’ dapat dinikmati di antaranya melalui pengalaman ruang dan kegiatan apresiasi bentuk arsitektur.

Di awal abad ke-20 kita kenal Frank Lloyd Wright dengan konsep Organik-nya, Mies van der Rohe dengan Less is More –nya juga Le Corbusier dengan konsep ‘Five points of a New Architecture’ dan sculptural concrete architecture – nya. Di akhir abad ke 20 kita kenal Peter Eisenman dengan Arsitektur Dekonstruksi – nya, juga gerakan Metabolis yang dirintis Kisho Kurokawa, dkk. (untuk selanjutnya Kurokawa mengembangkan konsep Simbiosis) dan masih banyak arsitek pemikir yang fenomenal.

Lalu bagaimana dengan pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan ? Akankah juga mampu memberi ‘kenikmatan’ tersendiri pada pembaca seperti halnya pengalaman estetis dalam menikmati karya arsitektur dan karya desain lainnya ?

Sepanjang pengalaman ‘membaca’ saya di antara banyak tulisan di bidang desain arsitektur ada tulisan 4 orang arsitek pemikir fenomenal yang dipublikasikan pasca tahun 1970-an yang menggugah pikiran dan kesadaran saya : Geoffrey Broadbent, Charles Jencks, YB Mangunwijaya, dan Kisho Kurokawa.

Secara umum melalui pemikiran ke 4 tokoh ini proses desain dan estetika bentuk, khususnya, dipandang sebagai suatu yang utuh. Desain merupakan keterkaitan segala aspek dalam obyek desain, obyek desain dengan lingkungannya, sekaligus juga hubungan desainer, obyek desain dengan pengguna, penikmat desain. Desain merupakan media penyampai pesan, selain memiliki dimensi – seperti kata Vitruvius - fungsi, struktur dan estetika.

Sementara estetika bentuk merupakan ‘keseimbangan’ dari segala aspek dalam desain, cenderung bersifat kontekstual dan merupakan ‘jiwa’ desain. Estetika bentuk tidak dipandang hanya melalui tampilan atau keindahan fisik atau pun melalui hasil komposisi dari unsur rupa (garis,bidang,bentuk 3d,tekstur,dll.) dengan penerapan prinsip desain(kesatuan,keseimbangan,irama,dll.) saja. ‘Meaning’ dalam desain dengan tingkatannya (denotatif atau pun konotatif) merupakan aspek penting estetika bentuk.


Kita kenal Broadbent dengan bukunya ‘Design in Architecture’ (1980) yang memuat hal-hal mendasar dalam desain arsitektur dan menjadi pegangan wajib mahasiswa, akademisi, arsitek maupun peminat desain arsitektur lain. Arsitektur dengan pendekatan manusia, pemikiran sistematis dan menyeluruh, mencakup aspek logis, intuitif dan kreativitas yang dibutuhkan dalam mendesain diurai secara mendetail dalam buku ini.

Hal fundamental dan menarik untuk dikembangkan yang dipaparkan pula oleh Broadbent adalah pendekatan bentuk. Broadbent membagi pendekatan bentuk ke dalam empat kategori (1980 : 25 – 54)
· Pragmatik – pendekatan melalui tahap percobaan, trial and error
· Ikonik (selanjutnya dikembangkan menjadi Tipologik) – pendekatan melalui tradisi, kebiasaan yang telah umum dilakukan atau berdasar kesepakatan sosial
· Analogik – pendekatan analogi alam, atau segala sesuatu (kerja tubuh manusia, teori fisika, dsb.)
· Kanonik/Geometrik (menurut Broadbent dalam makalah seminar arsitektur di Univ. Parahyangan tahun 1987 pendekatan Kanonik dikembangkan menjadi Sintaksis) – pendekatan sistem geometris, matematis, keteraturan, modul, dsb.

Selanjutnya Broadbent mengembangkan konsep bentuk nya dalam konteks semiotika (ilmu tanda) berdasar teori Peirce dan Piaget dalam buku ‘Sign, Symbol, and Architecture’ (1980 : 311 - 330)
- Pragmatik sebagai Indeks
dikategorikan dapat merupakan petunjuk sesuatu dan sebagai tanda – pesan dapat direspon secara langsung
- Analogik dan Kanonik sebagai Ikon,
hasil olah bentuk baik secara matematis, metafora, dsb. dan sebagai tanda – obyek menunjukkan maksud yang ingin disampaikan
- Tipologik sebagai Simbol
merupakan hasil kesepakatan sosial, kebiasaan umum, dan sebagai tanda - pesan dapat diketahui maksudnya dengan melihat hubungan obyek dengan lingkungan yang ada di sekitar juga hubungan-hubungan dalam obyek, bersifat kontekstual

Melalui telaah bentuk kita mengetahui bahwa aspek komunikasi merupakan hal penting dalam arsitektur. Arsitektur sebagai bahasa dan merupakan kumpulan ‘tanda’. Pernyataan ini diuraikan pula oleh Jencks dalam buku yang sama (1980 : 107 – 110) bahwa arsitektur sebagai tanda dapat merupakan indeks, ikon maupun simbol. Arsitektur sebagai a way of life sign, pernyataan status sosial ekonomi, pernyataan dari kepercayaan, tradisi, makna antropologis yang mencerminkan kondisi sosial ekonomi suatu wilayah, tanda dari fungsi dan aktivitas dalam bangunan, fungsi sosial, psychological motivation, struktur, temperature control, environmental service, pernyataan konsep ruang, komunikasi bentuk tiga dimensional - a sign of formal articulation.

Hal ini membuka pikiran untuk melihat desain sebagai bagian dari proses sosial budaya dan aspek bentuk merupakan salah satu media komunikasi visual, yang dapat menjembatani desainer dengan masyarakat pengguna dan pengamat.

( Lihat : Geoffrey Broadbent
Sumber gambar :
http://www.wessex.ac.uk/news/architecture.html )

Pemikiran menyeluruh dan kontekstual, paduan seimbang logika, intuisi dan kreativitas serta muatan sosial budaya desain terangkum pula dalam pemikiran ‘guna dan citra’ oleh YB Mangunwijaya dalam buku ‘Wastu Citra’ (1988). Mangunwijaya menekankan pula bahwa kearifan budaya lokal mampu menjadi solusi desain yang ‘membumi’, ramah lingkungan dan lebih bersifat ‘abadi’.

Citra arsitektur tidak terlepas dari potensi-potensi alam, sifat manusia yang ada di sekitarnya, menunjukkan keselarasan dengan alam sekelilingnya. Arsitektur yang baik, yang indah tidak terlepas dari ekspresi dan realisasi diri, bukan hanya penonjolan aspek fisik saja. Oleh karena itu arsitektur, yang berasal dari kata architectoon / ahli bangunan yang utama, lebih tepat disebut vasthu / wastu (norma, tolok ukur dari hidup susila, pegangan normatif semesta, konkretisasi dari Yang Mutlak ), karena wastu lebih bersifat menyeluruh / komprehensif, meliputi tata bumi (dhara) , tata gedung (harsya ), tata lalu lintas (yana) dan hal-hal mendetail seperti perabot rumah, dll. Total-architecture tidak hanya mengutamakan aspek fisik saja, yang bersifat rasional, teknis, berupa informasi tetapi mengutamakan pula hal-hal yang bersifat transendens, transformasi, pengubahan radikal ke-ada-an manusia. Oleh sebab itu citra merupakan bagian yang sangat penting dalam berarsitektur. Citra menunjuk pada sesuatu yang transendens, yang memberi makna. Arti, makna, kesejatian, citra mencakup estetika, kenalaran ekologis, karena mendambakan sesuatu yang laras, suatu kosmos yang teratur dan harmonis.

( YB Mangunwijaya, Wastu Citra, 1988 : 326 – 337 )


( Lihat : Yusuf Bilyarta Mangunwijaya
Sumber gambar : http://id.wikipedia.org/wiki/Y.B._Mangunwijaya )


Pemikiran Mangunwijaya yang kontekstual, peka terhadap kearifan lokal, ‘membumi’ diwujudkan dalam karya-karyanya seperti area ziarah umat Katolik di Sendang Sono, Muntilan ataupun pemukiman tepi Kali Code, Yogyakarta ( kini sudah tidak terawat lagi ). Kejujuran fungsi, bahan dan struktur menentukan estetika bentuk bangunan dan kawasan karya Mangunwijaya yang menunjukkan kesatuan dengan alam dan merupakan konsistensi perwujudan konsep guna dan citra yang dicetuskannya.
Sendang Sono, Muntilan, Jawa Tengah
(lihat sumber gambar :
http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/places-of-interest/sendang-sono/ )


Sementara Jencks dalam karyanya ‘ The Architecture of The Jumping Universe’ (1996) menjadikan teori-teori kontemporer tentang alam semesta seperti teori chaos dengan butterfly effect-nya, fractal, kompleksitas, nonlinearity, dll. sebagai dasar pemikiran arsitektur. Memadukan sain dengan perkembangan arsitektur dengan tujuan memberi pemahaman bahwa arsitektur mencerminkan pula pandangan tentang alam semesta. Jencks menggunakan pula istilah Form Follow World View.

The Butterfly Effect – little changes can have extraordinary and unpredictable consequences.

The universe is much more like a butterfly than a Newtonian machine. The universe is self-organizing, unpredictable, creative, and self-transforming. Every living thing has the property of self-repair, a small version of its great power of self-organizing.

As buildings reveal a way of life, this new world view will be most visibly expressed in architecture. Architects express the ideals of an age.

Architecture is built meaning. We may speak or write our thoughts. Architecture reveals what we believe, how we want to live. It fatefully expresses who we are.

( Charles Jencks, The Architecture of The Jumping Universe, 1996 : 11 – 13 )

( Lihat : Charles Jencks
Sumber gambar :
http://www.charlesjencks.com/biography.html
Karya Jencks : DNA for KEW Gardens, London (2003)
Sumber gambar :
http://www.charlesjencks.com/kew.html )

Fraktal merupakan struktur yang memiliki substruktur yang masing-masing substruktur memiliki substruktur lagi dan seterusnya. Setiap substruktur adalah replika kecil dari struktur besar yang memuatnya. Contoh fraktal dalam arsitektur adalah penerapan permainan perulangan bentuk geometris dengan keragaman dimensi dan peletakan sebagai bagian struktur , atau juga denah dengan bentuk dasar lingkaran dengan 2 ukuran berbeda bertumpu pada pergerakan spiral pada susunan tangga, dll.

Bagi Jencks karya Frank O. Gehry, Vitra International Headquarters, di Birsfelden, Switzerland (1992 – 4), dianggap memiliki kedalaman dan kreativitas melalui paduan yang saling melengkapi antara bentuk-bentuk dinamis, biomorfik pada bangunan dengan fungsi ruang ceremonial meeting dengan bentuk-bentuk formal, teratur, grid pada bangunan fungsi kantor. Struktur dalam bangunan menentukan dan memiliki kesatuan dengan bentuk luarnya. Setiap putusan desain merupakan hasil pertalian antar aspek di dalamnya.

( Lihat : Vitra International Headquarters, Birsfelden, Switzerland (1992 – 4)
Sumber gambar :
http://www.netropolitan.org/gehry/vitra.html )

Sedangkan karya Peter Eisenman menunjukkan kedinamisan alam melalui pemanfaatan kemajuan teknologi komputer sebagai bagian dari proses desain. Kita ketahui Eisenman sebagai salah satu pencetus Arsitektur Dekonstruksi cenderung memanfaatkan pendekatan bentuk pragmatis (menurut kategorisasi bentuk Broadbent) dalam karya-karyanya.

Pada tahun 1997 (Yakob Sutanto, Arsitektur + Tempo, Kompas 17 April 2005 : 33) Eisenman Architects di New York menjadikan kedinamisan tempo sebagai konsep dalam ‘Virtual House’ melalui simulasi digital.

( Lihat : Virtual House (1997)
Sumber gambar :
http://prelectur.stanford.edu/lecturers/eisenman/ )


Prinsip arsitektur yang perlu diterapkan di tengah kompleksitas jaman ini menurut Jencks (1996 : 167 – 169) adalah :
- Alam dan ‘bahasa alam’ merupakan pendekatan desain.
- Desainer sebagai the originators of the second nature, melakukan penyesuaian dengan alam juga beradaptasi dengan kemajuan teknologi
- Representasi kedinamisan sifat dasar alam semesta
- Kreativitas memuat permainan imajinasi dan pendekatan intelektual.
- Desain berkait dengan organizational depth, multivalence, kompleksitas dan the edge of chaos, serta merupakan ‘higher organization out of order and chaos’
- Penerapan keragaman, bottom-up participatory system , yang mampu memaksimalkan perbedaan
If the universe is a whole and societies as parts, are inherently self-organizing and in the end chaotic, the survival strategy will depend on a variety of models, species and approaches. The conclusion must be that one should foster a difference which will reach a maximum point of ‘self-organizing criticality’, that is, just before it explodes in complication
- Keragaman, perbedaan pemikiran desain dapat dipadukan melalui metode-metode yang mampu mengakomodir keragaman
- Beragam kebijakan berorientasi lingkungan dan kearifan lokal menjadi dasar desain.
- Arsitektur memuat kompleksitas permasalahan, mengakomodir beragam tuntutan yang kontradiktif. Sebagai bahasa - arsitektur mengadopsi simbol, makna alam, baik lokal maupun universal
It should have a double-coding of these concerns with aesthetic and conceptual codes
- Sain, khususnya sain kontemporer sebagai penyingkap tanda-tanda alam dijadikan pendekatan dalam arsitektur.
A cosmogenic architecture must embody imagination in action, it must dramatize creative processes, or it is nothing. Its spiritual role is to portray the laws and be emergent – that is surprise

Pemikiran Jencks membuka peluang kita untuk lebih luas memandang arsitektur sebagai mikrokosmos yang mencerminkan makrokosmos, seperti yang telah dipaparkan Mangunwijaya. Pandangan tentang alam semesta selalu berubah dinamis sejalan perkembangan jaman, begitu pula dengan pemikiran dalam arsitektur. Perkembangan sain dan teknologi dapat menjadi sumber inspirasi dan penunjang utama dalam proses desain, selain juga aspek ekologis (konsep eko-desain).

( Informasi lain tentang Jencks dapat diakses di http://www.charlesjencks.com/ )


Mikrokosmos sebagai pencerminan dari makrokosmos dijabarkan pula oleh Kisho Kurokawa. Kurokawa menyatakan bahwa arsitektur menjelang dan awal abad ke 21 berada dalam periode Age of Life di mana proses kehidupan : metabolisme, metamorfosis dan simbiosis dapat dicerminkan dalam perwujudan arsitektur. Kita ketahui Kurokawa merupakan salah satu pencetus gerakan Arsitektur Metabolis di tahun 1960-an.

In the age of life, it is the very plurality of life that possesses a superior and rich worth. The rising interest in the environment and the new importance given ecology aim at preserving the diversity of life. Life is the creation of meaning. The life of the individual and the diversity each species possesses is linked to the diversity of all of the different human cultures, languages, traditions, and arts that exist on the earth. In the coming age, the machine-age ideal of universality will be exchanged for a symbiosis of different cultures.

( Informasi lain tentang Kurokawa dapat diakses di
http://www.kisho.co.jp/ )

Filosofi simbiosis dalam arsitektur dijabarkan Kurokawa secara mendetail dalam bukunya Intercultural Architecture – The Philosophy of Symbiosis (1991). Arsitektur simbiosis sebagai analogi biologis dan ekologis memadukan beragam hal kontradiktif, atau keragaman lain, seperti bentuk plastis dengan geometris, alam dengan teknologi, masa lalu dengan masa depan, dll. Seperti dikatakan Jencks (sebagai pembuka tulisan), arsitektur simbiosis merupakan konsep both-and, mix and match dan bersifat inklusif.

Kurokawa mengadaptasi sain kontemporer (the non-linear, fractal, dll.) pun mengambil hikmah dari pemikiran Claude Levi Strauss berkait dengan pernyataan bahwa tiap tempat, wilayah, budaya punya autonomous value dan memiliki struktur masing-masing walau dengan ciri yang berbeda. Dengan demikian mengakomodir keragaman adalah suatu keharusan. Perlu ada jalan untuk menjembatani perbedaan karakter wilayah, budaya dll. Simbiosis diupayakan untuk secara kreatif menjaga hubungan harmonis antar tiap perbedaan, merupakan intercultural, hybrid architecture.

Dalam karyanya pemukiman di Al-Sarir, Libya 1979 – 84 (1991, 93 -94) Kurokawa memadukan teknologi baru dengan alam padang pasir, antara lain dengan memanfaatkan bahan dasar bangunan sand-bricks, dipadukan dengan materi prefabrikasi untuk bahan atap, juga pengaturan sirkulasi udara, dll. Tiap lay out dan desain diupayakan memenuhi keinginan tiap penghuni sehingga tiap rumah memiliki bentuk yang berbeda walau dengan bahan dan struktur yang sama.


( Lihat : KL International Airport - Selangor, Malaysia
Sumber gambar :
http://www.kisho.co.jp/page.php/223 )
Merupakan perpaduan struktur geometric hasil teknologi dengan bentuk kubah sebagai simbol tradisi Islam (dalam bentuk hyperbolic paraboloid shell) juga area hijau seperti penerapan taman dalam airport serta lansekap hutan tropik

Kondisi alam yang semakin tidak pasti di jaman konseptual dan high touch seperti sekarang menjadikan pemikiran desain mengarah pada kebijakan dalam mengolah alam, sustainable construction, eko desain. Konsep simbiosis Kurokawa, uraian Mangunwijaya dalam Wastu Citra, pemikiran Green Architecture Jencks dan Broadbent (pada perkembangan terakhir Broadbent pun terlibat pada pemikiran Green Architecture) secara jelas dan komprehensif menyoroti masalah tersebut.

Benang merah dari ciri pemikiran Broadbent, Jencks, Mangunwijaya dan Kurokawa (selain mampu memberi gambaran lebih luas, menyeluruh dan multidimensi tentang estetika bentuk dan proses desain pada umumnya) adalah kemampuan berpikir metaforis. Bagi saya hal ini yang mampu menjadikan pemikiran-pemikiran keempat tokoh ini fenomenal, memiliki visi masa depan dan memenangkan benak saya sebagai ‘penikmat’ pemikiran sekaligus merupakan pengalaman estetis.

Seperti juga kata Twyla Tharp yang dikutip oleh Daniel H. Pink dalam bukunya Misteri Otak Kanan (judul asli adalah A Whole New Mind – 2007), metafor adalah kekuatan yang vital dan pemberi hidup dari semua seni. Selanjutnya Pink menguraikan (2007 : 182 -188)

Proses pemikiran manusia pada umumnya adalah metaforis.
Dalam sebuah dunia yang kompleks penguasaan kiasan-kemampuan otak yang utuh yang disebut oleh sebagian saintis kognitif sebagai rasionalitas imajinatif – menjadi semakin lebih bernilai.

Pemikiran metaforis dapat membantu kita tuk memahami orang lain dan diri kita, juga menyadari makna. Imajinasi metaforis penting untuk menempa hubungan-hubungan empatik dan mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman.

Era konseptual juga menuntut kemampuan untuk memahami suatu hubungan di antara hubungan-hubungan, atau dikenal pula dengan istilah pemikiran sistem, pemikiran struktur, pemikiran holistik ataupun melihat keseluruhan perspektif.

Pengenalan pola, pemikiran keseluruhan perspektif dengan bergantung pada penalaran kontekstual yang intuitif memungkinkan para pemimpin untuk memilih kecenderungan-kecenderungan yang bermakna dari campuran informasi di sekitarnya dan berpikir secara strategis jauh ke masa depan.

Saat menelaah proses berpikir metaforis arsitek-arsitek tersebut kita akan menemukan bahwa beragam teori yang dijabarkan punya ‘value’. Dalam hal ini ‘value’ mengarah pada kemampuan membentuk pola pikir kita menjadi lebih menyeluruh dan integral, sekaligus juga membangun kesadaran akan kompleksitas dan konteks permasalahan desain sesuai tuntutan kondisi jaman.

Kekuatan pemikiran desain (yang memberi pula perspektif baru tentang estetika bentuk) ditunjang oleh perwujudan nyata dalam karya oleh arsitek pemikir seperti Mangunwijaya, Jencks, Kurokawa, dkk. menunjukkan bahwa keseimbangan otak kiri dan kanan yang menentukan kekuatan logika, intuisi dan kreativitas kita sungguh penting dalam mendesain. Pada akhirnya membangun perenungan kita untuk berupaya lebih bijak menyikapi beragam permasalahan desain yang semakin kompleks dan tidak pasti.


Daftar Pustaka :

1. Broadbent, Geoffrey, Design In Architecture , John Willey & Sons, Chichester : 1980 (cetakan pertama tahun 1973)
2. Broadbent, Geoffrey; Bunt, Richard ; Jencks, Charles , Sign, Symbol and Architecture, John Willey & Sons, Chichester : 1980
3. YB Mangunwijaya, Wastu Citra, PT. Gramedia, Jakarta : 1988
4. Jencks, Charles , The Architecture of the Jumping Universe, Academy Group Ltd., London : 1996 (cetakan pertama tahun 1995)
5. Kurokawa, Kisho, Intercultural Architecture, The Philosofy of Symbiosis , Academy Group Ltd. and Khiso Kurokawa, London : 1991
6. Pink, Daniel H. , Misteri Otak Kanan (judul asli A Whole New Mind , Riverhead Books, New York : 2006), Penerbit Think, Yogyakarta : 2007
7. Broadbent, Geoffrey, Design In Architecture, makalah seminar Universitas Parahyangan Bandung, 6 Juni 1987
8. Yakob Sutanto, Arsitektur + Tempo, Kompas 17 April 2005 : 33
9. Situs-situs tersebut pada tulisan dan gambar

TMII (Taman Mini Indonesia Indah) dan Perkembangan Desain Museum

( Artikel ini telah diupload di http://astudio.id.or.id/artkhus55_TMII.htm )

Apa yang ada dalam benak kita saat mendengar kata Taman Mini Indonesia Indah ?
Umumnya yang terlintas di benak adalah keragaman anjungan daerah berikut tampilan budaya tradisionalnya. Sementara dalam konteks fungsi utama sebagai super museum TMII masih berproses untuk menjadi lebih populer. Disadari atau tidak sepanjang 32 tahun perjalanannya TMII telah memberi kontribusi pada perkembangan desain museum

TMII merepresentasikan beragam karakter museum ditinjau dari aspek jenis materi koleksi, metode penyajian, juga tata bangunan dan lingkungannya. Museum seperti Anjungan Daerah, Museum Fauna Indonesia, Museum Olah Raga yang didirikan pada awal perkembangan TMII cenderung bersifat pasif dalam hal penyajian materi koleksi. Bentuk bangunan cenderung lugas, dengan ide dasar metafora langsung bentuk bangunan tradisional juga obyek koleksi seperti bentuk komodo (pada Museum Fauna Indonesia) dan bentuk bola (Museum Olah Raga). Sedangkan pada perkembangan selanjutnya, periode 1990-an sampai kini penekanan pada aspek edukasi dan rekreasi semakin kentara dengan sistem penyajian informasi yang interaktif, komunikatif (seperti pada Pusat Peraga Iptek). Desain bangunan dan lingkungan semakin variatif. Ide dasar bentuk bangunan tetap berkait dengan jenis materi koleksi yang ditampilkan (seperti struktur atom pada denah dasar bangunan Museum Listrik dan Energi Baru, dan bentuk ‘rig’ pada Museum Minyak dan Gas Bumi). Penerapan bahan bangunan hasil teknologi baru menandai pula perkembangan desain museum yang ada.

Metode penyajian materi koleksi museum beragam dari yang edukatif, artistik, sampai romantik. Penerapan aspek romantik dalam arti penciptaan suasana tertentu dalam tata bangunan dan lingkungan (seperti pada Anjungan Daerah, Museum Minyak dan Gas Bumi, Museum Transportasi) merupakan potensi yang mampu menarik minat pengunjung. Personal touch dalam desain museum semakin dibutuhkan tidak hanya dengan penyajian informasi yang interaktif dan keragaman jenis materi koleksi namun juga kejelian dalam menampilkan tema-tema khusus pada tata bangunan dan lingkungan. Penekanan ‘sense of place’ diharapkan mampu ‘mengikat’ pengunjung.

Desain museum yang utuh ditunjang pula oleh pemahaman mendalam terhadap materi koleksi yang ditampilkan, untuk kemudian divisualkan dalam beragam bentuk produk desain dari katalog, perlengkapan penunjang pameran (rak pajang, panel dan media penyampai informasi audio visual lain) dan penataannya, lighting dan penghawaan, sampai lay out ruang, fasade, bentuk ruang, bangunan dan lansekap. Semua komponen memiliki kontribusi pada citra museum.

Akankah TMII akan konsisten dengan jati dirinya sebagai super museum ?
Banyak cara bisa dilakukan sepanjang aspek manajemen, SDM dan pendanaan memungkinkan, serta aspek pemasaran, riset dan pengembangan secara optuimal dilakukan. Perkembangan desain dan aspek seni di segala bidang dari kuliner, olah raga (seperti basket dan sepak bola), otomotif, produk hasil teknologi untuk telekomunikasi dan informatika, dll. tentunya memberi warna baru bagi upaya pendokumentasian perkembangan ragam budaya di Indonesia. Tentu saja juga sebagai salah satu upaya lebih mempopulerkan TMII dengan sudut pandang yang lebih luas - tidak sekedar dipandang sebagai penunjang pariwisata. Mem’bumi’kan museum sebagai sarana yang benar-benar dekat dengan masyarakat khususnya kaum muda dan anak-anak menjadi tantangan khusus TMII.

Perkembangan TMII memang tidak lepas dari sosok Tien Soeharto dan jaman Orde Baru. Kesan birokratis, propaganda politis terlanjur lekat pada citra TMII. Tidak mudah untuk secara cepat merubah image, tanpa dukungan seluruh komponen yang terlibat dalam kehidupan TMII. Mudah-mudahan peresmian logo baru TMII mendorong pula perkembangan corporate image yang lebih kondusif bagi pembaharuan dan keterbukaan, baik dalam bentuk budaya institusi, maupun sebagai aset nasional - satu-satunya super museum di Indonesia.

Senin, Januari 21, 2008

Saat waktu tidak berpihak.....

Gadis kecil itu tertawa riang. Celotehnya mengisi hari-hari. Entah apa saja yang ada di benaknya.
Bermain, bermain dan bermain.

Sementara aku hanya terdiam. Memandang lurus ke depan.
Dan waktu pun tidak berpihak padaku.

Selamat malam
sapaan ini tidak membuat aku nyaman
saatnya aku ditinggalkan

Aku ingin …..
waktu tidak berjalan
dan kau ada selalu bersamaku gadis kecil

karena aku sebuah boneka gajah berwarna merah muda - duduk manis dalam tenda mungilmu

Minggu, Januari 20, 2008

Perjalanan......



tanda itu kian mewujud dalam tiap sisi perjalanan....



sebuah perjalanan....
mimpi, realita, pemikiran, harapan
dan doa

Selintas

Setitik bukan tiada
Tinggal bukanlah ada
Ada dan tiada tanpa rasa

Waktu hanya waktu
Diam hanya diam

Seluas benak seluas asa
Antara hening dan sirna

Selintas bukan berarti tiada

Bias Jejak

Jika yg ada adalah Tanya
Bukan satu bukan dua
Sejauh apa langkah tertempa
Tanpa batas tanpa rupa

Berangsur hilang
Namun tetap ‘ada’

Kebanggaan tanpa makna
Kesemuan….
Tanpa sadar……
Berguna dan sia-sia

Bermainlah dengan benakmu
Tertawalah dalam hatimu

Dan aku tahu
Jiwamu adalah dirimu

Sabtu, Januari 19, 2008

Sebuah Awal......


Ada realita rasa
Bagai seluruh hidupmu

Apakah benar begitu ?
Aku rasa tidak
Kadang semua seolah tanpa tawa

Apa arti tawa ?
Benak, kalbu, raga
Coba susuri semua

Benarkah sunyi ?
Aku rasa tidak
Sunyi, tawa, duka, bahagia adalah penggalan ‘Realita’

Doa, syukur, harapan……
Masuklah
Kau akan temukan jiwamu di sana

Recent Comments

Pengikut