YB Mangunwijaya
Manusia Pasca Modern, Semesta dan Tuhan (1999:70)
Kota adalah ironi. Kelimpahan versus kemiskinan. Keteraturan dengan kesemrawutan. Kesenangan dan penderitaan. Kota adalah ‘proses’ tanpa henti.
Bagi banyak manusia di dalamnya kota adalah impian, tumpuan harapan hidup dan ‘pelabuhan’ bagi beragam hasrat diri. Dinamika kota memberi makna bagi para pelaku kehidupan, antara perjuangan dan gaya hidup.
Manusia urban berproses menuju kutub positif dan negatif. Tindakan proaktif memberi kontribusi pada perancangan kota. Sebaliknya pembangunan kota yang cenderung mengarah pada ketidakstabilan ekosistem berakibat dan diakibatkan pula oleh perilaku hidup manusia urban.
Tiap kota memiliki ciri khusus berkait kehidupan sosial budaya, ekonomi, politik bahkan ideologi yang dianut warganya. Kota tradisional berciri kehidupan agraris dan orientasi adat istiadat serta kehidupan sosial sehingga estetika kota berkait erat dengan dimensi alam dan kebudayaan yang melingkupinya. Kota modern dengan segala fasilitas fisik dan gaya hidup warganya menjadikan estetika kota cenderung berkonteks budaya kontemporer berikut hasil teknologi yang melengkapinya.
Industri kreatif yang memadukan unsur hiburan, seni dan teknologi dengan kemasan kreatif, interaktif, teknologis, multi media dan multi disiplin mewarnai kehidupan kota. Perkembangan video game, animasi, komputer, film, musik, seni instalasi, seni pertunjukan, kerajinan, desain, riset, teknologi, dll. menjadi bagian dinamika kota. Industri kreatif menjadi potensi penting untuk pemberdayaan diri masyarakat urban.
Home industry seperti kerajinan, makanan dan minuman tradisional seperti jamu, obat-obatan, dll. menjadi populer. Selain lebih terbuka dan menjadi obyek wisata. Produk dan jasa ber-citra lokal ditawarkan dengan desain kemasan yang memorable dan orientasi ‘keutuhan citra lokal’ dalam konsep produksi dan pemasaran.
Perkembangan teknologi digital dan informasi memberi kemudahan akses dan pemanfaatan teknologi baru. ‘Bekerja di rumah’ menjadi pilihan dengan semakin mudahnya manajemen informasi dan efisiensi kerja. Dunia maya menjadi ajang sosialisasi dan turut andil dalam kemunculan beragam komunitas berbasis peminatan. Media massa menjadi primadona dan menjadi agen bagi beragam perubahan.
Dengan didukung kemajuan media massa - trend fashion, seni kuliner dan elaborasi budaya lokal sebagai kasus industri kreatif melahirkan beragam fenomena seperti trend batik di kalangan anak muda urban, kota Bandung sebagai ‘kota factory outlet’ , trend ‘harajuku style’ dengan adaptasi gaya busana tokoh animasi Jepang, kawasan Kelapa Gading sebagai pusat jajan dan makanan, dan gejala-gejala lain.
‘Pertunjukan’ menjadi orientasi. Di beragam cafĂ© dan rumah makan atraksi bartender, juru masak, peracik es krim, coklat, jamu dan obat-obatan tradisional, pembuat kue dan roti menjadi tontonan sekaligus bagian dari pembelajaran informal bagi masyarakat urban. Budaya tontonan menjadikan kota seperti area pajang dan 'toko serba ada'.
Kegiatan ekonomi kota selain ditunjang oleh perkembangan industri kreatif, ditunjang pula oleh gaya hidup. Gaya hidup konsumtif berdampak pada merebaknya pembangunan pusat perbelanjaan. Pusat kota, jalan utama di perumahan, lapangan olah raga atau area strategis lainnya telah menjadi ‘pasar kaget’. Fungsi kegiatan olah raga dibarengi dengan kegiatan rekreatif dan konsumtif menjadikan area tersebut merupakan favorit warga kota.
Setiap perkembangan dan keputusan penata kota berdampak pada konsekuensi yang akhirnya jadi pijakan untuk langkah selanjutnya. Pembangunan fisik kota yang cenderung ‘mengacaukan’ keseimbangan ekosistem pada akhirnya wajib direka ulang demi keberlangsungan kehidupan kota, termasuk di dalamnya pembangunan mental positif masyarakat.

sumber gambar : www.kompas.com/data/photo/2008/04/28/142850p.jpg
Khiso Kurokawa

|